+62 274 587333 | Psw. 1556

Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia

psikiatri_fkugm@yahoo.com

Dari Ilmu hingga Tawa: Perjalanan Pemulihan di Sentra Antasena

Sentra Antasena Magelang merupakan ruang pemulihan bagi Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). Di tengah stigma yang masih membayangi, tempat ini terus berusaha memberikan ruang aman, dukungan, dan harapan. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Hibah Pengabdian Masyarakat dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam tiga pertemuan berbeda, tim pengabdian masyarakat dari Departemen Psikiatri FKKMK UGM dan Departemen Dermatologi dan Venereologi FK-KMK UGM hadir dengan pendekatan yang beragam namun saling melengkapi: edukasi kesehatan jiwa, penyuluhan kesehatan reproduksi, dan permainan tradisional sebagai bagian dari pendekatan budaya.

Pertemuan pertama dimulai dengan dialog mendalam tentang kesehatan mental. Dr. Dra. Sumarni, M.Kes, bersama anggota tim: dr. Hendra, dr. Roberta, dr. Ageng, dan dr. Ihsiani menyambut anak-anak dengan hati terbuka. Setiap cerita yang dibagikan oleh ABH mengungkapkan beban emosional yang mereka pikul—kecemasan, trauma, hingga kebingungan jati diri. Meski topiknya berat, suasana tetap penuh empati. Anak-anak menunjukkan semangat luar biasa untuk memahami diri sendiri dan mencari jalan keluar. “Kami melihat potensi besar dalam mereka,” ujar Sumarni. “Yang mereka butuhkan adalah telinga yang mau mendengar dan hati yang mau membantu.”

Di pertemuan kedua, materi yang disampaikan oleh tim Dr. dr. Budi Pratiti, Sp.KJ, Dr. Dra. Sumarni, M.Kes, dan dr. Nikko Vanda Limantara adalah untuk mengajak anak-anak memahami risiko infeksi menular seksual dan tantangan psikologis masa remaja. Dr. dr. Budi Pratiti, Sp.KJ, menjelaskan tantangan perkembangan psikologis remaja, sementara dr. Nikko Vanda Limantara memberikan penyuluhan tentang risiko infeksi menular seksual.

Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit yang dapat menyebar melalui berbagai bentuk kontak seksual, termasuk hubungan vaginal, anal, maupun oral. Meski kerap dianggap tabu untuk dibicarakan, kenyataannya IMS seperti klamidia, gonore, sifilis, herpes genital, hingga HIV masih menjadi masalah kesehatan yang nyata. Banyak infeksi ini muncul tanpa gejala pada awalnya, sehingga sering kali tidak disadari hingga muncul komplikasi serius. Tanpa penanganan yang tepat, IMS dapat berdampak jangka panjang, mulai dari gangguan kesuburan hingga menurunnya kualitas hidup.
Karena itu, penyuluhan mengenai IMS menjadi bagian penting dalam proses pendampingan anak-anak di Antasena. Dengan pendekatan yang santai namun tetap bermakna, tim mencoba membuka ruang diskusi yang aman dan tidak menghakimi. Bagi sebagian anak, ini mungkin kali pertama mereka mendapatkan informasi yang benar dan dapat dipercaya tentang kesehatan reproduksi. Edukasi semacam ini bukan hanya tentang memberi tahu apa yang benar dan salah, tetapi juga tentang membekali mereka dengan pengetahuan yang bisa melindungi diri, membuat keputusan yang bijak, dan membangun masa depan yang lebih sehat—secara fisik maupun emosional.

Anak-anak tampak antusias, aktif bertanya, dan beberapa bahkan mulai berani bercerita tentang pengalaman masa lalu yang selama ini mereka simpan. “Ilmu ini bisa saya bawa pulang dan bagikan lagi,” kata salah satu peserta. Salah satu pendamping menilai kegiatan ini telah menanamkan benih kesadaran baru pada para ABH, meskipun hasil nyata baru akan terlihat dalam waktu panjang.

Pada kunjungan ketiga, nuansa berubah menjadi lebih ringan namun tak kalah bermakna. Ibu Sumarni DW dan tim kembali dengan pendekatan budaya: permainan tradisional Jawa. Alat peraga seperti pita, bola, dan tongkat dibagikan, lalu riuh tawa mengisi halaman Antasena saat anak-anak diajak bernyanyi dan menari. Permainan yang dimainkan antara lain Jamuran, Jaranan, dan lagu permainan kearifan budaya lokal lagu Suwe Ora Jamu dan Gundul-Gundul Pacul. Riwayat budaya lokal ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi media pembelajaran emosi, kerja sama, dan identitas. Anak-anak terlihat begitu menikmati momen tersebut, seolah sejenak terlepas dari tekanan dunia luar.

Setiap kunjungan membawa warna tersendiri, tetapi semuanya bersatu dalam satu tujuan: membantu anak-anak ini bangkit, percaya diri, dan memiliki kesempatan untuk menatap masa depan. Seperti yang disampaikan oleh salah satu pendamping di Antasena, “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Memberi bukan hanya ilmu, tapi juga harapan.”